Oleh Triwibowo Budi Santoso
Mengapa Iran tak nyerang langsung ke Tel Aviv?
Setelah menyerang UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, beberapa waktu lalu Iran merudal Yordania. Banyak analis militer telah menulis soal ini. Berikut ringkasannya:
Selama 20 tahun, CENTCOM (Pusat Komando AS) telah mengubah negara-negara Arab menjadi “perisai pelindung” bagi Israel, dan kini Iran sedang melumpuhkannya secara sistematis. Yordania adalah pertahanan terakhir sekaligus yang paling penting dalam melindungi Israel.
Kesalahan terbesar orang-orang saat melihat perang adalah menganggap tujuannya adalah menyerang ibu kota musuh secepat mungkin. Namun, bukan demikian strategi militer bekerja.
Secara historis, kampanye militer yang berhasil selalu dimulai dengan melumpuhkan pusat kendali, komunikasi, pertahanan udara, dan logistik sebelum melangkah ke operasi penentu.
Jika kita melihat peta titik serangan, Iran tidaklah bertindak seperti negara yang cuma mencari sensasi di media massa. Iran sedang mengatur strategi dan menyiasasti medan pertempuran.
Sasaran metodenya tidak acak atau sepele. Iran sedang melumpuhkan seluruh ekosistem militer AS di kawasan negara-negara Arab yang secara langsung dan tak langsung menjadi “perisai” Israel tersebut: Iran merusak radar peringatan dini, system pertahanan udara, fasilitas penerbangan dan hangar pesawat, pusat logistik, penyimpanan bahan bakar dan amunisi, pangkalan operasi terdepan, infrastruktur pendukung CENTCOM, pangkalan yang mendukung operasi di Suriah dan Irak, aset pengawasan laut dan maritim, dan pusat pengumpulan intelijen dan komunikasi.
Yordania adalah salah satu contoh terbaru. Kebanyakan orang tidak tahu letak “Tower 22” atau Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di peta, yang baru-baru ini diserang. Secara militer, tempat-tempat itu jauh lebih penting daripada sekadar menembakkan beberapa rudal ke pusat kota Tel Aviv.
Tower 22 mendukung operasi di Al- Tanf. Muwaffaq Salti menjadi markas bagi pesawat-pesawat AS dan operasi koalisi. Erbil mendukung intelijen dan operasi khusus. Bahrain menampung markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Kuwait adalah area logistik dan penampungan pasukan yang sangat besar. Qatar menjadi markas terdepan CENTCOM sekaligus pangkalan Udara AS terbesar di Timur Tengah. Tempat-tempat inilah yang menjadi mata, telinga, dan urat nadi dari kekuatan AS di kawasan tersebut.
Dari sudut pandang militer, negara yang kekuatannya lebih kecil dari segi persenjataan dan finansial, apalagi dikeroyok, tidak akan mulai bertarung dengan langsung memukul bagian terkuat lawan, namun mengisolasi titik-titik penting lawan terlebih dahulu sambil memberi tekanan politik dan ekonomi pada rezim Arab.
Amerika Serikat tidak berperang di Timur Tengah langsung dari Washington atau sekadar mengandalkan kapal induk. Mereka berperang melalui jaringan pangkalan yang saling terhubung dari Yordania, Qatar, Kuwait, hingga Bahrain. Jika jaringan itu melemah, setiap penerbangan tempur, data intelijen, misi pasokan ulang, dan peluncuran rudal pencegat akan menjadi jauh lebih sulit dan mahal/boros. Ritme operasi yang terus-menerus memberikan beban luar biasa pada tim pemeliharaan, cadangan rudal, dan rantai logistik bagi AS dan rezim Arab yang menjadi basis pasukan AS.
Apakah seseorang setuju atau tidak dengan politik Iran, itu tidak ada hubungannya dengan analisis militer ini. Yang sedang kita saksikan bukanlah aksi balas dendam asal-asalan, tetapi strategi terencana untuk merusak arsitektur regional yang selama ini menjadi tumpuan AS dan sekutunya dalam menancapkan kekuatan militer mereka di Timur Tengah.
Perang dimenangkan dengan menghancurkan kemampuan musuh, bukan dengan video viral rudal jatuh di ibu kota atau lagu-lagu hiburan di media sosial. Ini bukan konten tiktok, tetapi perang sesungguhnya. Target-target yang kelihatan kurang dramatis dan “biasa saja” di peta itulah yang sering kali justru paling menentukan.
Kalau bahasa sederhananya: bongkar dulu mata-mata, telinga, suplai, dan pertahanan musuh. Buat serangan mereka menjadi boros banget dari segi biaya. Upayakan AS capek nge-defend banyak tempat sekaligus. Jadi ini bukan soal “siapa lebih ganas ngebom,” tapi siapa yang lebih piawai ngerusak sistem lawan dari belakang.
Itu sebabnya Trump makin frustrasi karena perang tak selesai-selesai, dan kemudian dia mengeluarkan ancaman penggunaan nuklir. Namun koalisi AS masih ragu. Menurut Jenderal Yahya Rahim Safavi, “Melancarkan serangan nuklir terhadap Iran akan menjadi keputusan yang paling tidak masuk akal. Luas wilayah Iran kurang lebih 1,6 juta kilometer persegi. Sebagian besar wilayah negara ini berupa padang pasir, dan serangan nuklir taktis tentu akan menimbulkan kerusakan serius dan tragis bagi Iran, serta memakan banyak korban jiwa. Meski demikian, serangan nuklir taktis tidak akan mampu menghancurkan Iran, dan luas wilayahnya akan memungkinkan negara ini untuk tetap bertahan hidup. Namun, sebagai balasan, Iran akan melancarkan serangan langsung ke fasilitas nuklir Dimona dan pusat-pusat nuklir Israel lainnya. Bagi negara sekecil Israel, hal ini akan mengakibatkan kehancuran yang jauh lebih mengerikan. Keputusan ada di tangan Amerika Serikat.”
