๐ข๐น๐ฒ๐ต ๐๐ฟ. ๐จ๐๐๐ฎ๐ ๐ ๐๐ต๐๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ
Perjanjian Mekkah antara Saudi, Turki, dan Pakistan sempat dipamerkan sebagai lahirnya kekuatan pertahanan baru di dunia Islam. Saudi tampaknya ingin membangun kesan sebuah blok Sunni yang dapat menjadi penyeimbang kekuatan regional lain. Tetapi ketika Yaman meningkatkan serangannya, kemegahan perjanjian itu segera diuji. Turki tidak turun berperang. Pakistan juga tidak. Bahkan Pakistan menyatakan belum ada pembahasan mengenai respons militer berdasarkan perjanjian tersebut. Jadi, ketika perang benar-benar datang, aliansi itu belum menunjukkan daya militernya.
Saudi juga keliru jika mengira persoalan ini dapat dengan mudah dijadikan perang SunniโSyiah. Ini bukan perang mazhab. Yaman tidak sedang berperang dengan Saudi semata-mata karena persoalan Sunni dan Syiah. Turki dan Pakistan pun memiliki kalkulasi sendiri. Pakistan memiliki komunitas Syiah yang besar, sementara di Turki persoalan Syiah dan Alevi juga merupakan bagian dari realitas sosial. Erdogan bahkan pernah menghadiri acara Asyura yang diselenggarakan komunitas Syiah. Setelah menandatangani perjanjian, Ankara dan Islamabad tentu menghitung dampaknya terhadap stabilitas domestik masing-masing. Mereka tidak akan begitu saja masuk ke perang yang dapat menyeret persoalan sektarian ke dalam negeri.
Lebih penting lagi, Turki dan Pakistan tentu menghitung siapa yang akan mereka hadapi jika konflik berkembang. Berhadapan dengan Yaman saja belum mereka lakukan. Apalagi jika perang itu melebar menjadi konfrontasi dengan Iran. Iran telah membuktikan dirinya mampu menghadapi tekanan dan konfrontasi dari Amerika dan Israel. Tidak masuk akal mengharapkan Turki atau Pakistan mengambil risiko perang dengan kekuatan sebesar itu hanya demi menyelamatkan Saudi.
Ironinya, Amerika pun tidak bersedia mengambil risiko perang langsung untuk Saudi. Maka Saudi kini menghadapi pertanyaan sederhana: kalau Turki tidak berperang, Pakistan tidak berperang, dan Amerika juga tidak mau berperang, lalu siapa yang akan berperang untuk Saudi?
Perjanjian Mekkah akhirnya justru memperlihatkan batas kekuatan Saudi. Uang dapat membeli senjata, tetapi tidak dapat membeli keberanian negara lain untuk berperang. Minyak dapat membuat Saudi kaya, tetapi kekayaan itu tidak otomatis menjamin keamanan jalur-jalur strategisnya. Dan jika aliansi yang dibangun dengan sangat megah ternyata tidak mampu bergerak ketika diuji oleh Yaman, maka yang runtuh bukan hanya citra sebuah perjanjian, melainkan ilusi bahwa Saudi adalah kekuatan regional yang mampu menentukan nasib kawasan sendirian.
