Foto pengamat geopolitik dengan latar belakang ilustrasi jet tempur dan narasi propaganda pertempuran Yaman.

𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗗𝗿. 𝗨𝘀𝘁𝗮𝘇 𝗠𝘂𝗵𝘀𝗶𝗻 𝗟𝗮𝗯𝗶𝗯

Jubir militer Saudi dikabarkan mengatakan bahwa pesawat tempur Saudi yang dirontokkan para pejuang Yaman membawa penumpang menuju Mekkah untuk menunaikan umrah.

Sulit membayangkan propaganda yang lebih murahan daripada ini: sebuah pesawat tempur tiba-tiba diberi aura kendaraan ibadah, seolah-olah label “umrah” dapat mengubah hakikat sebuah pesawat militer menjadi rombongan jamaah yang sedang menuju Tanah Suci. Ketika narasi semacam ini disampaikan setelah sebuah pesawat tempur jatuh, yang muncul bukan simpati, melainkan pertanyaan sederhana: mengapa perang harus disamarkan dengan kisah ibadah?

Di sinilah propaganda menjadi lucu sekaligus menyedihkan. Ketika tidak mampu menjelaskan kekalahan secara meyakinkan, agama dipanggil untuk menyelamatkan narasi. Pesawat tempur dipoles menjadi kendaraan jamaah. Agresi militer dan intervensi politik dibungkus dengan cerita tentang umrah. Lawan yang berhasil merontokkannya kemudian ditempatkan dalam posisi seolah-olah telah menyerang orang-orang yang hendak beribadah. Formula propagandanya sederhana: kalau tidak mampu memenangkan pertempuran, setidaknya menangkan simpati melalui rasa bersalah dan kesakralan agama.

Masalahnya, Yaman bukan negeri yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong untuk mengganggu Saudi. Yaman adalah negeri yang selama bertahun-tahun mengalami kehancuran akibat perang dan intervensi. Kini, ketika kekuatan dari Yaman yang selama ini diperangi justru mampu memberikan pukulan balik, narasinya mendadak berubah. Yang sebelumnya diperlakukan sebagai sasaran operasi militer kini hendak dipresentasikan kepada dunia Muslim sebagai pihak yang mengancam jamaah umrah. Seolah-olah sejarah perang bisa dihapus hanya dengan menyisipkan kata “Mekkah” dan “umrah” ke dalam konferensi pers.

Lebih ironis lagi, propaganda semacam ini tampaknya ditujukan bukan terutama kepada medan perang, melainkan kepada ruang psikologis dunia Islam. Isu identitas, agama, dan kesakralan Mekkah diaktifkan untuk memperoleh simpati dari negara-negara Muslim. Logikanya kira-kira begini: jika lawan tidak bisa dikalahkan sebagai kekuatan militer, gambarkan saja serangannya sebagai ancaman terhadap jamaah dan tempat suci. Dengan begitu, persoalan perang berubah menjadi persoalan sentimen keagamaan. Padahal umat Islam berhak bertanya secara sederhana: apa yang sedang dilakukan pesawat itu, siapa yang mengoperasikannya, dan dalam konteks operasi militer apa pesawat tersebut berada di sana?

Dusta propaganda memiliki satu kelemahan mendasar: semakin besar kebohongannya, semakin besar pula kebutuhan untuk menambalnya dengan kebohongan baru. Hari ini pesawat tempur menjadi “pesawat pembawa jamaah umrah”; besok mungkin tank menjadi “bus ziarah”, kapal perang menjadi “kapal pengantar peziarah”, dan rudal menjadi “surat undangan menuju Tanah Suci”. Begitulah jika agama dipaksa menjadi kosmetik bagi kegagalan militer. Yang sakral bukan lagi dihormati, tetapi diperalat untuk menutupi kenyataan yang tidak nyaman.

Karena itu, yang patut disedihkan bukan hanya jatuhnya sebuah pesawat, melainkan jatuhnya standar kejujuran dalam menjelaskan sebuah perang. Ketika sebuah negara besar tidak mampu menundukkan kekuatan yang tumbuh dari negeri yang sebelumnya diacak-acak oleh perang, lalu memilih menjual kisah sedih tentang “jamaah umrah” demi mencari simpati, persoalannya bukan lagi sekadar kalah atau menang di udara. Yang sedang jatuh bersama pesawat itu adalah martabat sebuah propaganda yang mengira umat Islam begitu mudah dipermainkan oleh simbol-simbol agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *