Analis geopolitik AS Robert Kagan mengulas kebangkitan Iran sebagai kekuatan utama baru di Asia Barat.

Penilaian yang Mengejutkan

“Kekuatan dominan di kawasan ini ke depannya adalah Iran, bukan AS atau Israel.”

Itulah penilaian dari Robert Kagan, seorang ahli strategi neokonservatif terkemuka AS yang menulis untuk The Atlantic. Beliau berpendapat bahwa setelah bertahan dari serangan bertubi-tubi AS dan Israel tanpa menyerah, Iran muncul dengan deterensi, pengaruh, dan posisi tawar (leverage) yang lebih besar.

Tekanan Militer Gagal

Kagan menyoroti beberapa poin:

  • Pembaruan sanksi “tekanan maksimal” oleh AS
  • Perang 12 hari (2025) AS-Israel terhadap Iran
  • Perang Ramadan yang menyebabkan gugurnya Pemimpin Iran, Sayyid Ali Khamenei, beserta para pejabat senior
  • Agresi selama lebih dari lima minggu terhadap kemampuan militer Iran

Namun Teheran tidak menyerah ataupun memberikan konsesi.

Kagan berargumen, perang tersebut justru menyingkap keterbatasan kekuatan militer AS.

Titik Balik: Energi Teluk

Titik balik utama ditandai ketika Israel melancarkan agresi ke ladang gas South Pars Iran.

Iran membalas dengan menyerang kompleks LNG Ras Laffan di Qatar, membuktikan bahwa rudal dan drone Iran dapat menimbulkan kerusakan cukup parah pada infrastruktur energi vital Teluk, yang memicu kekhawatiran timbulnya krisis ekonomi global.

Washington kemudian menghentikan serangan terhadap target-target energi Iran dan menekan Israel untuk melakukan hal yang sama.

Washington Takut Eskalasi

Menurut Kagan, ancaman berulang AS mengenai serangan baru selalu mengikuti pola yang sama:

  • Iran mengancam akan membalas
  • Negara-negara Teluk memperingatkan dampaknya
  • Washington mundur

Beliau berargumen bahwa hal ini membuktikan Washington lebih ragu dan takut terhadap eskalasi dibandingkan Teheran.

Kekhawatiran AS diperparah oleh kekurangan pasokan rudal dan pencegat (interceptor) krusial, yang dapat membuat pasukan serta sekutu AS lebih rentan dalam kampanye militer berkepanjangan lainnya.

Posisi Tawar Baru Iran

Kagan meletakkan pusat penilaiannya di Selat Hormuz. Beliau berpendapat bahwa Iran kian memandang kendali atas jalur pelayaran tersebut sebagai sumber kekuatan geopolitik yang permanen, bukan sekadar alat tawar-menawar.

MoU AS-Iran bulan Juni, menurut Kagan, mencerminkan pergeseran keseimbangan ini dengan memberikan Iran peran sentral dalam mengatur lintasan aman kapal-kapal komersial yang melewati Selat tersebut, berkoordinasi dengan Oman.

Selat Hormuz menjadi titik pusat dari penilaian Kagan mengenai menguatnya posisi Iran.

Tatanan Regional yang Kurang Bergantung pada AS

Kagan berargumen bahwa negara-negara Teluk yang dulunya sangat bergantung pada Washington untuk keamanan kini mulai meninjau ulang hubungan tersebut.

Beliau menunjuk pada meningkatnya kesepakatan yang melibatkan Arab Saudi, Pakistan, dan Turki sebagai sinyal tatanan regional yang bisa menjadi:

  • Kurang bergantung pada AS
  • Kurang selaras (aligned) dengan Israel
  • Lebih akomodatif terhadap Iran

Beliau juga berargumen bahwa sanksi-sanksi AS bisa menjadi semakin sulit dipertahankan karena negara-negara mulai mempertimbangkan pembatasan dari AS terhadap kepentingan ekonomi mereka sendiri.

Kesimpulan Kagan Sangat Tegas:

Meskipun telah menimbulkan kerusakan luas pada Iran, Washington gagal menerjemahkan keunggulan militernya menjadi hasil politik yang mereka cari.

Sebaliknya, perang tersebut justru membantu menciptakan kondisi bagi:

  • Iran yang lebih percaya diri
  • Posisi tawar yang lebih besar atas kawasan Teluk
  • Deterensi AS yang melemah
  • Tatanan regional yang kurang bergantung pada Washington

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *