Oleh Jake dari VPOL (Vocal Politics)
Mengapa Israel tampaknya bersedia mengambil risiko konfrontasi dengan anggota NATO demi sebuah pangkalan udara Suriah yang telah ditinggalkan? Karena ini bukan sekadar soal pangkalan udara tersebut, melainkan soal siapa yang akan menentukan arah kawasan ini setelah jatuhnya Damaskus. Turki merupakan aktor utama dalam penggulingan Assad dan dengan sangat cepat memanfaatkan situasi pasca-runtuhnya pemerintahan tersebut. Mereka adalah kekuatan eksternal utama di balik rezim Jolani, membantu melatih dan membangun kembali militer HTS sambil mempertahankan pengaruhnya sendiri di dalam negeri tersebut.
Suriah di bawah HTS semakin terikat dengan Ankara secara ekonomi, politik, dan militer. Pada periode yang sama, Israel justru melakukan hal yang yang hampir berlawanan dengan metode kendali yang sangat berbeda. Meskipun baik Israel maupun Turki turut serta dan diuntungkan dari penghancuran infrastruktur militer Suriah, Israel tetap mempertahankan pendekatan tersebut, menduduki lebih banyak wilayah Suriah di sekitar Dataran Tinggi Golan, mendirikan pos-pos pemeriksaan, dan menegaskan bahwa tidak ada kekuatan militer yang mampu mengukuhkan diri cukup dekat untuk menantang kebebasan bertindak Israel.
Pengaruh Turki lebih terlihat dalam bentuk pendekatan rekonstruksi ketimbang penggunaan kekuatan militer langsung, sehingga menciptakan ketergantungan. Lantas, mengapa menyerang pangkalan udara tak berawak di barat laut Suriah? Israel menyerang pangkalan tersebut setelah delegasi Turki dilaporkan berkunjung ke sana, dengan klaim bahwa pasukan Turki bersiap untuk ditempatkan di lokasi tersebut. Namun, pihak rezim Suriah membantah hal itu. Bahkan, Utusan Khusus Presiden AS Tom Barrack, seorang Zionis, menyanggah klaim itu, dengan menyatakan bahwa intelijen AS tidak menemukan bukti adanya penempatan pasukan dalam waktu dekat.
Barrack bahkan mengindikasikan bahwa Netanyahu mungkin telah memancing Turki untuk terlibat dalam konfrontasi menjelang pemilu Israel pada bulan Oktober. Partai Likud sedang terpuruk dalam jajak pendapat, sehingga krisis keamanan baru akan bermanfaat secara politik bagi pemerintah yang telah membangun sebagian besar legitimasi mereka berdasarkan citra Netanyahu sebagai pembela Israel yang tak tergantikan.
Artikel yang ditulis oleh Shay Gal di media Israel Hayom—yang didirikan oleh donatur besar Trump, Miriam Adelson—secara terbuka membahas kalkulasi bahwa pasukan Israel berpotensi menggempur pasukan Turki di Suriah tanpa secara otomatis memicu Pasal 5 NATO. Alasannya, jaminan pertahanan kolektif NATO tidak serta-merta mencakup prajuritnya hingga ke luar batas wilayah negara-negara anggota. Argumen utama dalam artikel tersebut pada dasarnya adalah bahwa Israel sah-sah saja menghancurkan fasilitas militer Turki di Suriah, karena aksi itu tidak akan memicu intervensi NATO. Tidak ada kewajiban bagi NATO untuk terlibat jika personel Turki terkena serangan di luar tanah air mereka sendiri. Jadi, mereka benar-benar telah memikirkan hal ini secara serius.
Lalu, apa yang sebenarnya diinginkan Israel? Strategi regional Israel sejak dulu selalu bergantung pada keunggulan militer yang mutlak dan kondisi negara-negara di sekitarnya yang cukup lemah sehingga kekuatan Israel tidak dapat ditantang secara serius. Tidak ada negara yang diizinkan memiliki militer yang berfungsi, dan tidak ada yang diizinkan memiliki aparatur pertahanan yang berarti. Gagasan ekspansionis Greater Israel (Israel Raya) berada dalam visi yang lebih luas untuk mengamankan kendali Israel dalam kedalaman strategis di seluruh kawasan—dan pengaruh Turki yang kian membesar di Suriah memotong langsung visi tersebut.
Pada akhirnya, baik Turki maupun Israel sama-sama beroperasi di dalam kerangka kerja besar AS untuk mencegah Suriah bangkit kembali sebagai negara yang sepenuhnya independen dan otonom. Namun di antara keduanya, terdapat persaingan nyata yang didorong oleh ambisi regional mereka yang saling bertentangan. Proyek Greater Israel menuntut netralisasi seluruh rintangan yang dapat mengekang tujuan-tujuan besar mereka, termasuk terhadap anggota NATO sekalipun.

Setuju, knp Israel berani mempertaruhkan konfrontasi dengan Turki yang notabene anggota NATO demi sebuah pangkalan udara Suriah yang sudah ditinggalkan? Jawabannya sebenarnya tidak terlalu berkaitan dengan pangkalan itu sendiri, melainkan visi dan ambisi Israel lebih luas pasca jatuhnya Damaskus yang membuka ruang bagi perebutan pengaruh untuk membentuk arah di kawasan. Kedua negara sama-sama memetik keuntungan dari hancurnya struktur militer era Assad dan berlanjut ke tahap “pembagian kue” alias tarik-menarik kepentingan. Pada akhirnya, keduanya sama-sama kekuatan destruktif hanya membawa kemudharatan.